Kodok dan katak, termasuk hewan yang berhasil hidup di daratan. Namun ia tidak dapat bertahan terlalu lama di daratan, oleh sebab itu ia masih memerlukan air sebagai tempat hidupnya.
Katak mengawali hidupnya sebagai telur yang
diletakan induknya di air, atau di tempat-tempat basah lainnya. Bisanya
kodok-kodok dari jenis kodok pegunungan menyimpan telurnya diantara lumut-lumut
yang basah. Sementara dari jenis kodok hutan lain menitipkan telurnya diatas
punggung kodok si jantan yang lembab, di mana si jantan akan selalu menjaga dan
membawanya hingga menetas, bahkan hingga menjadi kodok kecil. Biasanya kodok
dalam sekali bertelur akan menghasilkan 5000-20000 telur yang berlangsung
sebanyak 3 kali dalam setahun.
Gambar 1: Katak Epipedobates tricolor yang sedang
melakukan kawin
Katak yang sedang mengeluarkan telurnya
Perkawinan kodok dan katak terjadi pada waktu-waktu
tertentu, misalnya pada saat bulan mati atau menjelang hujan. Pada saat kodok
akan melakukan perkawinan, saat itu juga kodok jantan akan berbunyi untuk
memanggil betina dari tepian atau perairan. Suara keras kodok dihasilkan dari
katung suara yang terletak disekitar lehernya, yang akan menggembung besar
manakala digunakan.
Biasanya kodok dan katak akan hidup menyebar luas, terutama
di daerah tropis yang berhawa panas. Makin dingin tempat tersebut maka akan
semakin sedikit dijumpai kodok. Hal ini terjadi karena beberap alasan, salah
satunya adalah kodok yang berdarah dingin membutuhkan panas untuk
mempertahankan hidupnya dan menjaga metabolisme tubuhnya (Supriatun. 2012).
Gambar 2 : kantung suara pada katak jantan
Sistem reproduksi pada amphibi mengakibatkan pembuahan
pada hewan-hewannya terjadi secara seksual artinya penciptaan keturunan terjadi
melalui proses peleburan gamet haploid untuk membentuk zigot (telur yang
dibuahi) yang diploid. Gamet tersebut dibentuk secara meiosis. Amfibi
mengeluarkan gamet ke lingkungan dan bukannya disimpan di dalam salah satu
bagian di dalam tubuhnya, oleh karena itu fertilisasi pada katak dan kodok
terjadi secara eksternal atau di luar tubuh betina (Campbell:153).
Gambar 3 : Siklus hidup pada katak
Ada hal yang unik yang dapat kita ketahui dari katak. Sebagian spesiesnya, melindungi telurnya dengan cara yang berbeda-beda. ada yang memasukan anaknya kedalam mulut hingga anaknya cukup dewasa kemudian memuntahkannya ke lingkungan, ada yang membiarkan anaknya menempel di punggung bahkan ada spesies yang membawa telurnya di punggungnya kemanapun ia pergi. Salah satu contoh spesies yang membiarkan anaknya menempel dipunggung hingga siap untuk hidup sendiri adalah Epipedobates tricolo. Setelah melakukan fertilisasi, katak jantan menunggu hingga telurnya menetas, dan membiarkan anaknya menempel di punggung hingga ia siap diilepas ke lingkungan.
Gambar 4: Epipedobates tricolor
Sumber Gambar
Gambar 1 & 2: Hickman, Cleveland P.
Jr . 2007. Integrated Principels Of Zoology Fourteenth Edition. New York: The
McGraw-Hill Companies, Inc
Gambar 3 & 4: Vitt, Laurie J . 2009.
Herpetology. China : Elsevier Inc
Sumber Refrensi
Hickman, Cleveland P.
Jr . 2007. Integrated Principels Of Zoology Fourteenth Edition. New York : The
McGraw-Hill Companies, Inc
Vitt, Laurie J . 2009.
Herpetology. China : Elsevier Inc
Supriatun, Dian. 2012. Reproduksi Katak. [Online]. Tersedia : http://warungngapakdyan.blogspot.com/2012/04/reproduksi-katak.html.
[27 Maret 2013]